Jajan
Setan di Sekolah
Di sebuah tempat yang namanya tidak
layak disebut—ada Bapak Setan yang berkata kepada anaknya, “Nak, sekarang kamu harus hati-hati kalau ingin mengganggu siswa-siswi
di *nyebut sekolah gue*.” Sang anak pun heran mengapa ayahnya berkata
demikian. Hati muda iblisnya terkoyak dikala ia dilarang untuk menggoda dan
mengganggu manusia ke jalan yang sesat. “Lho, memangnya kenapa Pak?” tanyanya
heran. Ayahnya dengan khidmat pun menjawab,
“Sekarang, banyak manusia yang makan setan.”
Hahaha—mungkin begitulah percakapan
antar setan jika mereka dengar kalau siswa-siswi di sekolah gue suka sama yang
namanya setan. Padahal jika Sang Bapak Setan tahu, kami ini tidak makan setan,
melainkan kerupuknya. Ya, Kerupuk Setan.
Mungkin kalo denger kata ‘setan’,
pasti kita semua berpikir yang macam-macam. Dari mulai yang pake daster putih
kumal yang nyangsang di pohon duren sampai yang dibungkus kayak lontong yang
kalau ditoyor langsung cemen. Atau bisa juga nenek-nenek yang membawa tikar dan
gayung—sumpah gue juga ga ngerti kenapa nih nenek-nenek ga bawa credit card aja. Dan lo pasti ga
mengkategorikan Edward Cullen di Twilight
Saga sebagai setan. Iya ‘kan? Iyalah, secara dia beken gitu.
Nah, di sekolah gue lagi zaman yang
namanya Kerupuk Setan. Itu loh, versi murahnya kerupuk super pedas seperti
‘maicih’ atau ‘karuhun’ di Bandung. Kenapa namanya Kerupuk Setan? Kalau kita
telaah lebih dalam lagi, dengan logika fisika, kimia—bahkan pakai persamaan
dasar akuntansi, coba lo pikir, apa hubungannya setan sama rasa pedas? Emang
ada ya orang waras yang sekonyong-konyong makan setan lalu bilang, “Eh, gila cyinn … Setannya pedes banget!”—gue
rasa ga ada. That’s the point. Kalau
misalnya ‘beneran’ manusia makan setan, lalu setan makan apa?!
Akhirnya gue mencoba realistis dan
berpikir kalau penamaan Kerupuk Setan ini ada hubungannya sama penciptaan iblis dari api (Q.S. 15:27)—yang
kita semua tahu api itu panas dan pedas itu memang seperti membakar lidah. Oke,
ini mulai realistis.
Suatu siang di bulan September, gue
berinisiatif untuk membeli (biasanya cuma mintain temen) Kerupuk Setan di
kantin sekolah. Kantin sekolah gue tidak sebesar stadion Gelora Bung Karno—gue
pun sangsi kalau ada kantin sebesar itu. Tapi kalau untuk menampung ratusan
murid yang berbondong-bondong ‘jajan’ sewaktu istirahat tiba, rasanya kantin
sekolah gue masih muat.
Fenomena ‘jajan di kantin sekolah’
memang layak untuk diperdebatkan. Kapasitas kantin dan jumlah murid seringkali
berbanding terbalik dan tidak signifikan. Kantin di sekolah gue misalnya, ada 6
kios. Jika satu kiosnya dikerumuni pasukan siswa-siswi sebanyak 15 orang,
kebayang ga tuh sesaknya? Tak butuh otak Einstein untuk menebak lebih banyak
mana, pengunjung perpustakaan sekolah atau kantin sekolah, ‘kan?
Hanya di kantin sekolah lo bisa
ngerasain yang namanya kericuhan, berdesak-desakkan, sedikit anarkisme, dan
keaktifan luar biasa masing-masing individu untuk mendapatkan ‘jajanan’
incarannya. Lo juga akan melihat betapa bar-barnya seorang cewek yang rela
mendorong kesana-kemari orang di sampingnya—demi sepotong wafer yang bernilai
Rp 500,00. This is real! Terlalu
realistis malah.
Di kantin nomor 2, setelah
terombang-ambing kesana-kemari, akhirnya gue mendapatkan jajanan keramat itu.
Gue mulanya cuma beli satu bungkus Kerupuk Setan untuk sekedar coba-coba.
Sampai di kelas, gue pun dengan
baik hati menawarkan kerupuk ini kepada teman-teman. Entah mereka yang
kelaparan atau memang dasarnya doyan, kerupuk milik gue pun ludes. Gue speechless dan hanya bisa menelan ludah
kecewa.
Keesokan harinya gue pun
berinisiatif beli 3 bungkus untuk jaga-jaga kalau ada yang minta—yang kalau
dikalkulasikan harganya tidak sampai semahal beli tablet. Dengan rasa penasaran
hebat, gue coba Kerupuk Setannya. Di kunyahan yang pertama, pedasnya belum terasa.
Sampai pada kerupuk kesepuluh,
hidung gue mulai berair begitupun mata gue. Kerupuk Setan benar-benar pedas! Membuat
gue dan teman-teman ketagihan dibuatnya. Sudah 3 hari berturut-turut terhitung
dari hari itu—gue rutin membeli Kerupuk Setan.
Teman gue yang akrab di panggil ‘Jawa’
sudah memberi wejangan ke gue untuk ga setiap hari beli Kerupuk Setan. Saat itu
gue belum tau efeknya. Gue masih asik ngunyah-ngunyah kerupuk di pojokan kelas
bareng teman-teman yang ketagihan juga. Makan kerupuk bareng teman itu memang asyik.
Indahnya berbagi kerupuk.
Akhirnya, hari itu datang juga.
Hari di mana, perut gue tiba-tiba merasa panas dan mules. Ternyata gue diare. Untungnya efek diare itu gue
alami sewaktu weekend. Gue jadi bisa
menjajah WC di rumah sepuasnya. Ga kebayang ‘kan kalau lo bolak-balik ke WC
sekolah di saat lo lagi ulangan matematika?
Belasan kali bolak-balik WC membuat
gue akhirnya lelah dan letih. Cairan di tubuh gue terkuras habis dan jelas—gue
dehidrasi. Sejak saat itu gue kapok. Gue ga makan Kerupuk Setan setiap hari
lagi. Gue hanya makan sedikit kalau ditawari teman atau kalau tidak ada makanan
lain selain Kerupuk Setan. Sejak hari itu pula, gue kalau ke kantin sekolah cuma
beli wafer. Iya, yang harganya Rp 500,00 itu. Kerupuk Setan agaknya telah
merubah hidup gue sedikit-banyak. Bagaimanapun juga, gue masih menyayangi perut
gue. Ini demi kebaikan dan kenyamanan perut gue. Iya ‘kan?
Komentar
Posting Komentar
Tanya? Komen? Gratis cyin.