Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Ramadan euy!

Suatu pagi di hari pertama Ramadan ada orang ngetwit gini. Minta maaf ya dari awal, di saat kamu sadar bahwa kamu memang salah atau sudah menyakiti orang lain. Tidak perlu menunggu bulan puasa atau lebaran. lalu lanjutannya begini: Tweet ini merujuk ke "temen" RL ya aq lov klean smua mutual q xixixi.   Reh, apa kabar? Masih hidup lu? Baguslah. Makasih ya udah mampir ke blog gue. Makasih udah mau kepo.  Awas ke- trigger baca blog gue ini. Jangan lupa share link blog ini ke Cocong, Kanja, Dape, Ridho, Lia, atau sesiapapun mutualan lu yang baik-baik di akun Sisy itu. Kan ada banyak tuh ya mutualan lu. Jangan letih-letih ya ceritain kami ke mereka. Copas-copas aja di chat. Atau share di grup mutualan ya. Biar elu jadi banyak masukan dan saran dari mereka yang pintar-pintar itu. Berbeda dengan judulnya, yang akan gue tulis sekarang bukanlah welcoming Ramadan, gue akan sedikit gloomy di sini. Kenapa gloomy ? Tak lain tak bukan adalah karena gue sedih . Beneran ini. ...

Cita-Cita?

Ah ngomongin cita-cita ya.... Gue jadi inget pas gue lulus TK, gue bercita-cita jadi tukang pijet. Seriusan lho ini, emak bapak gue pun udah tahu dan merestui. Kenapa gue bercita-cita begitu, karena kalo abis mijetin emak atau bapak, gue selalu dikasih duit. Pikir gue, dengan keahlian dan tenaga yang ga seberapa, I can save the world gue bisa menafkahi diri gue dengan jadi tukang pijet. Kalau misalnya gue gak bisa jadi tukang pijet, gue udah punya backup cita-cita lain yaitu jadi mbak-mbak jamu gendong. Back to the topic , apa sih cita-cita? Sebuah impian dalam bentuk profesi? Sebuah hal yang ingin dicapai?  Kalau menurut KBBI, cita-cita adalah: cita-cita/ci·ta-ci·ta/ n 1 keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Banyak orang seumuran gue (ya emang gue umur berapa ya sekarang), yang kalau ditanya apa 'cita-cita lu' pasti jawabnya pake pertanyaan; "Apa ya?" atau : "Apa hayooo tebak?" Tenggelam ajalah orang-orang yang kalo ditanya mal...

Pikiran Jernih

Mengakhiri bulan Maret dengan meresmikan berakhirnya hubungan gue dan dia. Semoga gak ada penyesalan di masa yang akan datang. Pasti. Yeah, akan kubuat tak ada penyesalan! Sebenarnya sempat terjadi percakapan konyol siang tadi dengan teman sekantor. Gue: "Pengen putus deh sama dia. Tapi gimana ya?" Hade: "Yaudah sih bilang putus aja. Pasti dia jawab oke." Dan benar saja. Dia jawab "Oke, kalau itu emang demi kebaikan lu". Sedikit berharap dia akan menahan. Sedikit. Namun sudahlah. Aku sudah cukup susah selama ini. Dan jika mengambil sample "susah selama ini", maka konklusi di masa depan ya tidak jauh-jauh dari ini kan? I'm free now and want to make up my relationship with my God. Don't disturb me. -Jakarta, sehabis hujan dengan pikiran jernih-

Cerpen: Radit, Roro, dan Prinsip Dasar Kehidupan

~3 bulan sebelumnya~ "Itu kan Johan! Ngapain sih di sini?" "Yeh, si anjeng. Ini kan glodok, wajarlah kokoh-kokoh ke sini. Bokapnya kan jualan jam dinding. Ada kiosnya di sini." jawab Roro ngegas. Radit sedikit berjengit memandang Roro. Ia tak menyangka Roro akan mengucap kata-kata makian. Yang ditatap malah biasa saja sambil kipas-kipas pakai kertas catatan HVS lecek. Empat tahun tidak bertemu Roro, dan perubahan Roro begini drastisnya  membuat Radit geleng-geleng. "Lanjut cari souvenir gak? Ke Asemka aja gimana?" desak Roro. Radit menghela napas. Setelah membetulkan kacamata, dia menyetop bajaj. "Gue ga pernah naik bajaj. Lo yg bener aja..." keluh Roro. Radit diam saja. Sama sekali tak mempersilakan Roro masuk bajaj lebih dulu, dia masuk duluan. Sebelum mengunci pintu bajaj, dia berucap singkat, "naik atau gue tinggal." Bajaj pun berangkat menuju Pasar Asemka. "Mobil lu ke mana Dit?" tanya Roro setelah me...