~3 bulan sebelumnya~
"Itu kan Johan! Ngapain sih di sini?"
"Yeh, si anjeng. Ini kan glodok, wajarlah kokoh-kokoh ke sini. Bokapnya kan jualan jam dinding. Ada kiosnya di sini." jawab Roro ngegas.
Radit sedikit berjengit memandang Roro. Ia tak menyangka Roro akan mengucap kata-kata makian. Yang ditatap malah biasa saja sambil kipas-kipas pakai kertas catatan HVS lecek.
Empat tahun tidak bertemu Roro, dan perubahan Roro begini drastisnya membuat Radit geleng-geleng.
"Lanjut cari souvenir gak? Ke Asemka aja gimana?" desak Roro.
Radit menghela napas. Setelah membetulkan kacamata, dia menyetop bajaj.
"Gue ga pernah naik bajaj. Lo yg bener aja..." keluh Roro.
Radit diam saja. Sama sekali tak mempersilakan Roro masuk bajaj lebih dulu, dia masuk duluan. Sebelum mengunci pintu bajaj, dia berucap singkat, "naik atau gue tinggal."
Bajaj pun berangkat menuju Pasar Asemka.
"Mobil lu ke mana Dit?" tanya Roro setelah mereka membisu 15 menit.
"Bukan mobil gue. Mobil Si Bunga itu. Udah lama dijual buat modal nikah." Roro hanya ber-oh pendek.
"Gue kira, Bang Ali udah ngasih cukup uang buat nikahan." balas Roro. Radit mengangkat bahu.
"Nikah mahal juga ya ternyata," komen Roro yang dijawab Radit dengan anggukan singkat. Mereka masih jauh dari area pasar dan keadaan saat itu sedang macet parah.
-----
~Wedding Day~
Radit dan Roro pertama kali kenal saat mereka sekelas di kelas 8.
Radit adalah kapten basket SMP 20 Jakarta, dan Roro adalah sekretaris PMR.
Radit malas punya pacar.
Roro malas cari pacar. Namun entah bagaimana mereka bisa pacaran pada akhirnya, itu masih menjadi misteri.
Radit tidak pernah meminta macam-macam ke Roro seperti remaja labil pada umumnya. Sewaktu mereka SMA, kebetulan juga mereka satu SMA, salah satu spot favorit mereka adalah McD PGC yg buka 24 jam. Di sana, dibandingkan pacaran, mereka lebih cocok disebut sebagai teman belajar.
Pada akhirnya, Roro masuk kedokteran di universitas swasta di Jakarta dan
Radit masuk Teknologi Hasil Perikanan UGM.
"Tau ga kenapa gue sama Radit putus?" tanya Roro pada teman SMA-nya, Rani. Mereka berdua sedang antre untuk mengambil dessert di meja prasmanan.
"Kenapa?" tanya Rani tak acuh. Awalnya ia kaget karena bertemu dengan Roro di pesta perkawinan ini, tapi ia bisa menutupi rasa kaget itu dengan cepat.
"Kakak ceweknya Radit, tunangan sama abang gue,"
"Hah? Kak Ali itu abang lu? Abang kandung?" Rani tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
"Terus hubungan lu sama Radit gimana? Awkward ga?" Rani langsung mencecar Roro dengan pertanyaan yang meledak-ledak di kepalanya.
"Ya awalnya sih aneh. Udah putus kok masih sering ketemu. Malah lebih sering ketemu pas udah putus daripada pas pacaran karena kami ikutan ngurus ini itu buat nikahan kakak-kakak kami. Pergi berdua buat beli souvenir-lah, bantu survei tempat nikahlah. Sampai bagiin undangan."
"Wah gila...sih." Rani mengucap pelan. Perempuan yang tiba-tiba merasa canggung itu bingung harus bicara apa lagi dengan Roro untuk mencairkan suasana.
"Kalo dibilang masih suka sih... Ya masih kali ya. Radit ganteng soalnya," lanjut Roro sambil terkekeh.
"Ooh... Iya, sih. Kita ga pernah tau apa yang bakalan terjadi di masa depan ya," balas Rani sambil menuangkan vla ke pudding.
"Bener banget! Gue pun awalnya ga bakalan nyangka kalo lu sama Radit bakalan nyusul tunangan bulan depan." kata Roro sumringah.
Rani agak tersenyum getir. Dia pikir dirinya tidak akan ketahuan.
"Kapan...?" tanya Rani menggantung.
"Kapan nyusul maksud lo? Calonnya aja gak punya gue hehe..."
"Kapan lu tau kalo gue dan Radit...?"
"Udah tau dari pas lo nembak Radit," jawab Roro kalem. Ia melihat ke arah pelaminan dan melihat abangnya, Ali, yang walaupun lelah bersalaman dengan banyak orang, tampak bahagia sekali sudah sah mempersunting seorang wanita, Bunga, kakak perempuan Radit.
Keringat dingin mengalir dari pelipis Rani. Ia bingung harus berekspresi apa di depan perempuan yang pacarnya pernah ia rebut sewaktu semester 4 dulu.
"Ro, gue mau bilang dari SMA kalo sebenarnya gue naksir Ra--"
Sambil tersenyum enteng, Roro membalas dengan ayunan tangan. Menyuruh Rani berhenti menjelaskan.
"Jadi gini Ran. Sebenarnya Radit minta pendapat gue apakah dia harus nerima elo atau engga. Dan gue jawab terima aja. It turns out kalo elo tuh cewek yang baik buat Radit. Dan kenapa lo panik sih?"
"Lo... Lo gak marah? Kan gue pelakor di sini."
"Buat apa? Dari awal gue nganggep Radit cuman temen belajar aja tuh. Udah ya. Pokoknya woles aja. Makan yang banyak. Mumpung gratis hehe... Gue ke sana dulu, ada sesi foto keluarga."
Dengan langkah mantap Roro berjalan ke arah pelaminan di mana orangtuanya, orangtua Radit, dan dua keluarga inti berkumpul untuk berfoto bersama.
Radit tampak melambaikan tangan ke arah Rani yang dibalas Rani dengan antusias tapi canggung.
'Yah, bohong sih kalau gue bilang gue gak pernah suka sama sekali sama Radit. Dia satu-satunya cowok seumuran yang pernah deket sama gue dulu. Namun dalam hidup ini, gak semua yang lo inginkan bakalan terwujud. Lo harus tau prinsip dasar itu dulu Ran. Baru lo tau deh pahit getirnya hidup! Damn, kata-kata gue keren banget sih.' batin Roro sambil tersenyum lebar-lebar saat blitz kamera fotografer mengenai wajahnya.
"Mba, bisa gak tangannya gak bentuk peace terus? Udah lima kali jepret masa gaya-nya sama ter--lahhh, Roro??!" sang fotografer bengong dan kaget bukan kepalang saat melihat Roro.
((Bersambung ke part 2 dan nanti gue bikin dari sisi Radit))
NB. Cerpen ini dibuat setengah jam di notes HP setelah balik kerja dengan pikiran suntuk. Ga tau kenapa bikin alur begini? Terinspirasi dari kakak temen yg mau married kali ya. Nama tokoh ga ada hubungannya sama orang asli. Thanks
Komentar
Posting Komentar
Tanya? Komen? Gratis cyin.